Self Limiting Belief

Ada orang yang sukses dalam kehidupannya, namun ada juga orang yang biasa-biasa saja. Apakah yang membedakan mereka? Benarkah takdir sudah menentukan nasib mereka untuk menjadi biasa-biasa saja atau menjadi sukses luar biasa?

Ternyata di dalam kehidupan kita ada sebuah sistem yang kita anut, kita yakini, yaitu keyakinan. Bahasa kerennya adalah belief. Setiap orang memiliki hal ini. Permasalahannya adalah belief ini bisa menjadi dua hal yang bertentangan dalam hidup kita.

Belief yang pertama adalah “Self Limiting Belief” di mana keyakinan kita menghambat keberhasilan. Sering kali self limiting belief ini tidak disadari oleh kita dan menghambat diri kita. Keyakinan ini tumbuh dan dirawat oleh diri kita sehingga menjadi sebuah keniscayaan. Bisa jadi ini juga merupakan warisan dari orang tua kita, atau guru kita, dan sebagainya. Dulu orang tua kita bilang kalau mau sukses harus belajar setinggi-tingginya, maka kalau kita hanya punya ijazah “secukupnya” maka tidak akan bisa sukses.

Hal ini bagi sebagian orang menjadi batasan di dalam dirinya. Kalau tidak Sarjana atau Magister, maka saya tidak akan bisa berpenghasilan yang baik atau sejahtera. Sedangkan banyak Sarjana yang juga hanya mampu menjadi karyawan “pas-pasan” yang kurang memberdayakan dirinya di dalam organisasi perusahaan.

Belief yang berikutnya adalah, empowering belief. Dengan keyakinan ini, maka situasi dan kondisi yang dimiliki menjadi sebuah lecutan untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi. Karena ia hanya seorang sarjana, atau bahkan hanya tamat SMA, maka ia paham bahwa ia harus bekerja dengan lebih kreatif dan inovatif. Sehingga akhirnya bukan tidak mungkin orang ini membuka sebuah usaha dan membesarkannya sampai menjadi tempat para sarjana mencari penghidupan.

Self limiting belief sama halnya seperti sebuah cerita tentang anak gajah yang sedari kecil dirantai kakinya. Beratus-ratus kali ia mencoba untuk lepas dari rantai, namun ia tidak berhasil. Maka seiring bertambahnya usia dan besar badannya, ia masih punya keyakinan bahwa ia tidak akan bisa mematahkan rantai yang mengikat di kakinya. Sedangkan sesungguhnya, saat itu ia sudah memiliki potensi dan kekuatan yang dibutuhkan. Hanya saja keyakinan yang salah membatasinya.

Sedangkan manusia terus berkembang, baik secara fisik, pikiran, emosi, dan spiritualnya. Maka kita bisa melihat dari buah-buah yang dihasilkan dalam kehidupan kita. Jika di dalam kehidupan kita, buah yang dihasilkan adalah buah yang membuat hidup kita tidak lebih sejahtera, maka jangan-jangan kita memiliki self limiting belief di dalam diri kita. Ketika menyadari hidup kita tidak menjadi lebih baik, itulah saatnya untuk merubah keyakinan kita. Merubah keyakinan yang membatasi menjadi keyakinan yang menguatkan.

Dengan perubahan keyakinan dari membatasi menjadi memberdayakan, maka tindakan kita pun akan berbeda. Dengan tindakan dan pendekatan yang berbeda maka hasil yang didapatpun akan berbeda. Tentunya hal ini perlu dilihat dengan pendekatan sikap mental yang positif. Dimana tidak ada orang yang sebenarnya ditakdirkan untuk menjadi pecundang. Ingatlah, bahwa pikiran kita membuahkan tindakan. Tindakan lalu menjadikan kebiasaan. Setelah itu kebiasaan menentukan karakter kita. Karakterlah yang kemudian menentukan nasib kita. Jadi kita masih dapat mengubah nasib menjadi jauh lebih sempurna, jauh lebih baik dari sebelumnya di luar dari yang pernah kita bayangkan.

Posted on: April 14, 2019, by :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *